I.
Kebudayaan
Kebudayaan
adalah sebuah sistem pengetahuan atau gagasan yang digunakan sebagai pengatur
tingkah laku, yang hidup dan berkembang dari generasi ke genereasi, dipelajari,
dipraktekkan, dihayati, dan dibanggakan. Menurut Van Peursen, perkembangan kebudayaan
manusia ada 3 kategori, diantaranya kategori mitis dimana sikap manusia
merasakan dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib atau kekuasaan dewa
dalam mitodologi bangsa-bangsa primitif, kategori ontologis diamna sikap
manusia yang tidak lagi hidup dalam kepungan kekuatan mitis, dan kategori
fungsional dimana sikap manusia menunjukkan tidak lagi terpesona kepada hal-hal
atau kekuataan mitis, juga tidak lagi menghadapi lingkungan dengan mengambil
jarak sekarang, sikap fungsional ini termasuk kedalam ciri utama manusia
modern. Menurut Koentjaraningrat, kesenian merupakan fokus dari kebudayaan
Bali, karena dalam sistem kesenian terkait seluruh unsur yang lain seperti
sistem religi, sistem pengetahuan, bahasa, sistem kemasyarakatan, sistem mata
pencaharian, dan teknologi. Kebudayaan Bali mendapatkan pengaruh yang sangat
besar dari kebudayaan India dengan datangnya orang-orang Hindu dari India ke
Bali.
Di pulau Dewata ini, kesenian tidak
hanya digunakan sebagai hiburan saja, melainkan juga sebagai sarana dan
pelengkap peristiwa-peristiwa ritual yang bersifat keagamaan, kebersamaan suatu
komunitas, dan penunjang faktor ekonomi bagi sebagian masyarakatnya. Dalam
perkembangan pembangunan yang cepat dalam kesibukan industri pariwisata dan
persaingan untuk mengumpulkan materi, peranan kesenian untuk menyeimbangkan
dunia lahiriah dan rohaniah tidaklah kecil. Perkembangan tersebut mempunyai
dampak negatif dan positif terhadap kehidupan budaya, khususnya kehidupan
kesenian.
II.
Kesenian Menjadi Fokus Kebudayaan Bali
Kesenian pada masyarakat Bali
merupakan satu kompleks unsur yang tampak digemari oleh warga masyarakatnya,
sehingga terlihat seolah-olah mendominasi seluruh kehidupan masyarakat Bali.
Atas dasar fungsinya yang demikian maka kesenian merupakan satu fokus
kebudayaan Bali. Daerah Bali sangat kaya dalam bidang kesenian, seluruh cabang
kesenian tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakatnya yang meliputi seni
rupa, seni pertunjukan dan seni sastra.
Seni rupa mencakup satu cabang yang
terdiri dari seni pahat, seni lukis dan seni hias. Seni pahat pada masyarakat
Bali telah mengalami suatu perkembangan yang panjang yaitu patung-patung yang
bercorak megalitik yang berasal dari jaman pra Hindu yang dipandang sebagai
penghubung manusia dengan nenek moyang dan kekuatan alam, arca dewa-dewa yang
dianggap sebagai media manusia dengan dewa-dewa dan jenis ini merupakan
pengaruh Hindu-Budha, patung-patung yang bertemakan tokoh-tokoh dari cerita
Mahabharata dan Ramayana, bentuk-bentuk relief yang dipahatkan pada tembok
pintu dan tiang rumah, serta patung-patung yang berbentuk naturalis. Begitu
pula dengan seni lukis di Bali yang telah mengalami perjalanan yang sangat
panjang, dimulai dengan lukisan-lukisan yang bersifat simbolis magis seperti
rerajahan, lukisan-lukisan religius seperti lukisan parba, langit-langit dan
ider-ider, serta lukisan-lukisan yang bersifat naturalis.
Untuk seni tari tradisional di Bali
berdasarkan fungsinya digolongkan dalam tiga jenis yaitu Tari Wali (Tari
Sakral) yang merupakan tarian keagamaan yang dianggap keramat, Tari Bebali
merupakan tarian yang berfungsi sebagai pengiring upacara, dan Tari
Balih-Balihan merupakan tarian yang berfungsi sebagai hiburan. Jenis tarian sakral
atau yang dianggap keramat antara lain : Tari Sanghyang Dedari, Tari Rejang
Sutri, Tari Pendet, Tari Baris Gede, Tumbak, Baris Jangkang, Baris Palung,
Pusi, Seraman, Tekok Jago, Topeng Pajangan, Wayang Lemah, Wayang Sudamala, Tari
Abuang, Tari Bruntuk, Tari Dakamalon, Tari Ngayab, dan Tari Kincang-Kincung.
Sedangkan tari yang termasuk kedalam tari balih-balihan diantaranya tari
Legong, Barong, Kecak, dan tari Pendet. Alat pakaian atau gander yang digunakan
oleh masyarakat akan disucikan atau disakralkan.
Dalam seni musik tradisionalnya, di
Bali memiliki juga kesamaan dengan musik tradisional di beberapa daerah yang
lain, misalnya dalam penggunaan gamelan dan berbagai alat tabuh lainnya. Namun
terdapat perbedaan yang sangat signifikan yakni dalam teknik memainkannya dan
gubahannya. Dalam budaya Bali, gamelan memiliki peranan yang sangat penting
dalam kegiatan budaya dan sosial keagamaan.
Kesenian sastra di Bali merupakan
hasil warisan budaya yang luhur dan merupakan referensi serta sumber dari
bentuk-bentuk lainnya. Sejak jaman dahulu masyarakat Bali telah mengenal
tulisan atau aksara Bali. Secara keseluruhan seni sastra di Bali telah
mengalami lima jaman yaitu kesusastraan Bali Purwa, kesusastraan Bali Hindu,
kesusastraan Bali Jawa, kesusastraan Bali Baru, dan kesusastraan Bali Modern.
Contoh dari kesenian sastra Bali adalah cerita Ramayana atau Mahabarata.
III.
Fungsi dan kedudukan seni dalam kehidupan masyarakat
Bali
Kehidupan masyarakat Bali dilandasi falsafah Tri
Hita Karana artinya 3 penyebab kesejahteraan yang perlu diseimbangkan dan
diharmoniskan, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), hubungan
manusia dengan manusia (Pawongan), dan hubungan manusia dengan lingkungan
(Palemahan). Dalam seni musik tradisional atau gamelan Bali, bila dikaitkan dalam konsep Tri Hita Karana
gamelan Bali dapat dilihat dari sudut fungsi sebagai berikut :
a. Gamelan dalam Konteks Upacara Ritual
Keagamaan (Parahyangan)
Gamelan Bali dalam konteks Parahyangan
berfungsi untuk mengiringi upacara ritual Hindu. Gamelan yang kini sangat
popular pada kehidupan masyarakat Bali yakni gamelan Gong Kebyar, yang
fungsinya selain sebagai sarana hiburan, gamelan yang tergolong baru ini juga
bisa digunakan dalam mengiringi prosesi upacara Dewa Yadnya. Misalnya
pada saat odalan di Pura, Gong
Kebyar bisa digunakan
untuk mengiringi tari-tari wali
seperti tari Topeng, tari Baris Gede, tari Rejang Dewa dan lain sebagainya. Jika
dikaitkan dengan konteks Parahyangan, gamelan Gong Kebyar memang banyak
fungsinya.
b. Gamelan dalam Konteks Sosial
(Pawongan)
Hubungan pawongan, salah
satunya yaitu penumbuh rasa kebersamaan. Contohnya dalam memainkan gamelan,
seorang penabuh dituntut keterampilannya dan mampu mengadakan interaksi antar
penabuh yang lainnya agar tercapainya penampilan yang sempurna. Dengan adanya
rasa kebersamaan itulah maka rasa persatuan antar penabuh akan tumbuh. Selain
itu, antar penabuh atau seniman pun bisa tukar pendapat, saling mengisi,
menambah wawasan dan menambah teman baru pula.
c. Gamelan dalam Konteks Lingkungan
(Palemahan)
Kalau dilihat dari konteks palemahan, gamelan Bali dapat digunakan sebagai musik prosesi pada upacara
yang ada hubungannya dalam alam semesta dan lingkungan sekitarnya. Misalnya
gamelan Gong Kebyar dan Baleganjur
digunakan pada saat upacara mecaru.
d. Gamelan dalam Pariwisata dan Ekonomi
Gamelan Bali bisa digunakan untuk
penyajian sebuah seni pertunjukkan yang akan dipentaskan kepada
wisatawan-wisatawan asing atau domestik
yang datang ke Bali. Ada pula wisatawan yang datang ke Bali sengaja
untuk melihat pertunjukan pementasan gamelan Bali dan sengaja datang untuk
belajar bermain gamelan Bali.
Hal itu membawa dampak yang luar biasa
pada perekonomian negara
khususnya bagi masyarakat
Bali sendiri, yaitu pendapatan perkapita negara yang semula
rendah menjadi tinggi akibat berkembangnya pariwisata.
Pada saat ini, gamelan telah menjadi
lahan kerja bagi seniman-seniman Bali bila ada wisatawan asing atau domestik
yang ingin belajar gamelan Bali, dan oleh hal tersebut menyebabkan banyak
bermunculan seniman-seniman profesional yang menyediakan jasa pembuatan tabuh.
Tak heran bila sebagian besar kehidupan masyarakat
Bali diwarnai dengan berbagai macam upacara keagamaan, dan di setiap upacara
keagamaan tersebut pasti ada sajian-sajian upacara yang diiringi dengan gamelan
dan kelompok penari untuk mengisi acara upacara keagamaan tersebut. Namun,
dengan berjalannya waktu fungsi kesenian bali yang semula sarana sakral kini
sebagian sudah menjadi seni sekuler yang mengarah pada hiburan dan persembahan
karya dengan nilai seni yang tinggi. Bagi masyarakat Bali, seni dan kerajinan
telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
IV.
Perkembangan Kesenian Bali
Sulit membedakan antara seni dan kehidupan
sehari-hari di masyarakat Bali, karena kesenian dan agama sudah seperti
dwitunggal, itulah yang membuat kesenian di Bali hingga saat ini masih dapat
bertahan sampai sekarang dan terwarisi secara turun-temurun.
Perkembangan kesenian Bali dibagi menjadi fase-fase
historis yang meliputi zaman pra-Hindu, zaman pemerintahan Raja-raja Bali,
zaman kedatangan orang-orang Majapahit, zaman pemerintahan Belanda, dan zaman
kemerdekaan sampai masa kini.
a.
Zaman Pra-Hindu
Pada zaman ini seni
tari yang dikenal adalah tari primitif yang ditemukan pada upacara-upacara
animisme dan dinamisme yang fungsinya untuk menolak bala, menurunkan hujan atau
untuk menyembuhkan penyakit. Pada masyarakat Bali sendiri, sisa-sisa kebudayaan
seperti itu masih berkembang, contohnya pada tari Sang Hyang Dedari yang
merupakan kesenian asli yang sangat tua umurnya, tari tersebut dipertunjukkan
dalam upacar keagamaan dan merupakan media keagamaan yang sangat penting dalam
kehidupan masyarakat Bali.
Berkembangnya seni
suara Bali purba terjadi sebelum abad ke 6, yang merupakan kesusastraan rakyat
bercorak tradisi lisan dan dieplajari turun temurun. Terdapat banyak perubahan
dalam perjalanannya, tetapi kesusastraan
tersebut tetap berkembang pesat hingga muncul beberapa cerita rakyat. Pada
zaman itulah diduga kuat sebagai awal cikal bakal berkembangnya lagu-lagu
rakyat yang disebut gegendingan yang
salah satu contohnya ialah Gending Sang Hyang yang merupakan nyanyian sakral
berbahasa Bali.
b.
Zaman
Pemerintahan Raja-raja Bali
Kesenian Bali mendapat pengaruh kebudayaan Hindu
Jawa sejak abad ke 8. Hal tersebut memang belum diketahui secara pasti, namun
setelah ditemukannya prasasti Bebetin yang dibuat oleh pegawai Kerajaan
Singhamandawa pada bulan ke 10 yang berangka tahun 896 Masehi menyebutkan
beberapa jenis seni pertunjukan seperti pamukul, pagending, pabunjing,
papadaha, pabangsi dan sebagainya.
Literatur-literatur Bali kebanyakan memberi tekanan
pada pengaruh kebudayaan Hindu, dan sangat sedikit menaruh pengaruh pada unsur-unsur
kebudayaan Cina dalam kesenian Bali. Hubungan tersebut terlihat dari Barong
yang ada di Bali yang berasal dari singa barong Cina yang muncul pada Dinasti
T’ang pada abad ke 7 sampai abad ke 10. Pengaruh Cina juga tampak pada
peninggalan barang-barang porselin, patung-patung, dan bangunan suci berhiaskan
porselin yang mulai muncul di Bali.
c.
Zaman Kedatangan
Orang-orang Majapahit
Pada abad ke 16 sampai
ke 19, kesenian Bali mencapai puncak keemasannya, dan pada saat itulah muncul
dan tercipta tari-tarian Gambuh, Topeng, Wayang Wong, Parwa, Arja, Legong, dan
seni klasik lainnya. Pada zaman ini, berkembang pula seni sastra Itihasa yakni
seni sastra yang terdiri atas bermacam-macam tembang. Contohnya sastra kakawin
Mahabharata dan Ramayana, kidung Panji, peparikan Adiparwa, Bharatayuda,
Narasoma, dan Bomantaka yang diciptakan berdasar wiracarita Mahabharata.
Seni rupa yang muncul
pada saat itu merupakan seni keagamaan dan seni rupa untuk puri. Perkembangan
seni lukis juga muncul gaya kamasan, karya lukis yang berbentuk ornamen wayang
yang temanya diambil dari Mahabharata dan Ramayana. Lukisan wayang tersebut
juga berperan dalam bangunan pura dan puri sebagai penghias langit-langit,
sebagai gambar dinding, atau sebagai lukisan pada alat-alat ritual. Sedangkan
dalam perkembangan seni kerajinan menumbuhkan bentuk kerajinan emas-perak yang
terukir indah yang dibuat berupa alat-alat upacara, misalnya tempat sesajen
seperti bokor, kendi, cawan, dan sangku. Kemudian seni kerajinan juga
mendapatkan pengaruh dari luar yang semakin tajam dengan masuknya patra Cina,
Mesir, dan Olanda yang dimasukkan dalam berbagai bangunan pura dan puri.
Kontak Bali dengan
dunia Barat menyebabkan tumbuhnya kreasi-kreasi modern dalam kesenian Bali.
Kreasi tersebut merupakan ekspresi masyarakat modern dan didalam seni tari
ditandai dengan Kebyar di Singaraja pada tahun 1914 yang dibentuk dalam tari
kemasan dimana tari yang asalnya klasik, komposisinya diperbaharui, waktunya
diperpendek, dan lebih menggunakan improvisasi dan interpretasi dari penari
sendiri. Dan pada abad ke 18, muncul grup-grup professional dalam kesenian Bali
yang mempertunjukkan tari untuk hiburan dan pementasan untuk kepentingan
pariwisata dalam menghibur turis yang berkunjung ke Bali.
d.
Zaman
Pemerintahan Belanda
Sejalan dengan
pertumbuhan Gong Kebyar dalam seni pertunjukan, pada tahun 1930-an seni rupa
mengalami perubahan bentuk dan isi setelah kedatangan dua pelukis warga negara
asing yakni Walter Spies dan Rudolf Bonnet yang menetap di Ubud, mereka mulai
melukis dengan tema sabungan ayam, upacara piodalan di pura, ngaben, dan
sebagainya. Sebelum kedatangan mereka berdua, para pelukis di Ubud melukis
wayang gaya kamasan. Gerak seni lukis di Ubud membawa pengaruh yang sangat
besar terhadap perkembangan seni patung dengan munculnya para seniman yang menciptakan
bentuk-bentuk seni patung orang menari, bermain suling, orang memanah, dan
sebagainya.
Pada masa penjajahan
Belanda, dunia arsitektur Bali sangat terpengaruh oleh arsitektur Belanda.
Peninggalan arsitektru Belanda yang masih terpelihara bail sampai saat ini
adalah Istana Karangasem.
Pada tahun 1930-an juga
masyarakat Bali mulai membuat seni imitasi, yakni benda ritual seperti Barong,
rangda, dan pratima yang dibuat secara masal dan dijual untuk turis.
Pada tahun 1940-an,
Bali menerima sebuah bentuk kesenian barat yang dikenal dengan Stambul, yakni
sebuah tiruan drama barat yang diduga berasal dari kota Istambul yang mausk ke
Indonesia melalui orang-orang Melayu. Lalu stambul tersebut diadaptasikan kedalam
kesenian Bali dan dipadukan menjadi tari Janger.
e.
Zaman
Kemerdekaan Sampai Masa Kini
Sejak 1966 sampai saat
ini, perkembangan kesenian Bali mulai menonjol, dan masa kebangkitan kesenian
Bali tidak dapat dipisahkan dari usaha pemerintah RI yang sedang membangun. Ada
tiga konsep utama yang perlu diperhatikan dalam usaha melestarikan kesenian,
yaitu pelestarian ide (gagasan vital), pelestarian materi (ciri-ciri), dan
pelestarian keserasian antara keduanya.
V.
Kesimpulan
Karena umumnya
masyarakat Bali mayoritasnya beragama Hindu, maka fungsi kesenian pada
masyarakat Bali yang utama tidak dapat dipisahkan dari upacara keagamaan,
karena setiap mengadakan ritual upacara keagamaan diiringi dengan musik gamelan
dan kelompok penari. Namun seiring berjalannya waktu, fungsi kesenian tersebut
melebar luas dari yang tadinya seni hanya sebagai ritual keagamaan, bisa
menjadi hiburan atau tontonan untuk para turis atau wisatawan, bisa menjadi
laha pekerjaan, dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Dewi,
Sukmala, dkk. 2012. Pesona Indonesia
“Lebih Dekat Mengenal Pulau Bali dan Nusa Tenggara”. Jakarta : PT Bintang
Ilmu
Bandem,
I Made. 2000. Etnologi Tari Bali.
Denpasar-Bali : Kanisius
Sumardjo,
Jakob, dkk. 2002. Seni Pertunjukan.
Jakarta : Buku Antar Bangsa
Bayu Angga. 2013. Peranan
Gamelan dalam Kehidupan. http://bayoe8888.blogspot.com/2013/01/peranan-gamelan-dalam-kehidupan.html
, 12 April 2013, 2.35 PM
Beragam kesenian memang banyak tersaji di Bali
BalasHapusobat jantung aritmia
Bali memang indah kawan..
BalasHapusobat benjolan di ketiak
Tambah-tambah wawasan, makasih ya atas informasinya.. kunjungi juga obat benjolan asam urat
BalasHapusbanyak kesenian yang ada di Bali menjadi daya tarik wisatawan utk datang ke Bali
BalasHapushttp://www.marketingkita.com/2017/08/pengertian-pemasaran-dalam-ilmu-marketing.html
lumayan nih nambah lagi pengetahuan klo nanti main ke bali jadi ga heran sama budaya nya disana
BalasHapushttp://www.marketingkita.com/2017/08/pengertian-pemasaran-dalam-ilmu-marketing.html