Selasa, 17 September 2013

Estetika Tari Serimpi

I.                    DESKRIPSI TARI SERIMPI
Tari Serimpi merupakan kesenian yang berasal dari Jawa Tengah yang diiringi oleh gamelan Jawa. Kata Serimpi mengacu pada persamaan kata dari bilangan 4, oleh sebab itu tari serimpi identik dengan jumlah penari 4 orang saja yang semuanya wanita. Keempat penari tersebut merupakan simbol dari 4 unsur yang ada didunia yakni api atau grama, udara atau angin, air atau toya, dan tanah atau bumi.
Pada umumnya tari serimpi lebih beraneka ragam dibandingkan tari bedhaya, namun gerak-gerik dan posisi tubuh yang sama dilakukan pula seperti halnya pada tari bedhaya, dimana para keempat penari disiapkan pada bidang bersegi empat yang masing-masing ditempatkan menghadap empat penjuru mata angin. Tari serimpi sebaiknya ditarikan dengan penari yang memiliki postur tubuh yang sama.
Pada Tarian Serimpi Yogyakarta, umumnya mengisahkan dua hal yang bertentangan, yaitu baik dan buruk, serta benar dan salah, yang melukiskan suatu peperangan, mendekati kategori tarian wayang. Sedangkan pada tari serimpi Surakarta lebih banyak terlihat saling berpengaruh antara keempat penari, yang umumnya tidak ada sangkut pautnya dengan pahlwan-pahlawan tertentu atau dengan kata lain membiaskan masalah yang biasa terjadi dalam kehidupan manusia akibat pertikaian antara akal pikiran dan hawa nafsu.
Berdasarkan pola garapannya, tari serimpi termasuk ke dalam tari klasik karena dibawakan pertama kali di lingkungan Keraton. Tari Serimpi juga merupakan seni yang adhiluhung serta dianggap pusaka Keraton. Karena hanya ditampilkan di waktu dan tempat tertentu yaitu keraton, maka tari serimpi berdasarkan fungsinya termasuk tari upacara sebagai ritual kenegaraan sampai peringatan naik tahta sultan. Sedangkan berdasarkan bentuk koreografinya, tari serimpi termasuk kedalam tari kelompok, karena penarinya berjumlah 4. Dan pada umumnya busana yang digunakan oleh para penari adalah busana kebesaran pengantin putri. Namun pada perkembangan di era globalisasi ini, busana yang digunakan dalam tari serimpi ini khas yakni kain seredan dan baju tanpa leng.
Gerak tari serimpi sendiri terbagi menjadi 3 bagian, yakni :
1.      Gerak Maju Gawang
Gerak sikap jalan biasa dengan sikap tangan tertentu menuju tempat pentas dengan cara berbelok kekanan dan kekiri, kemudian diakhiri dengan sikap duduk.
2.      Gerak Pokok
Pada gerak pokok, penari menyajikan tentang tema tariannya. Kalau inti garapan tariannya adalah  berbentuk sajian perang, maka gerakan pokok yang akan ditampilkan akan diakhiri dengan adegan perang.
3.       Gerak Mundur Gawang
Gerak mundur gawang kebalikan dari gerak maju gawang. Gerakan ini biasanya dilakukan dengan berjalan.
Tari serimpi mempunyai ciri menyelipkan senjata di pinggang penarinya, yaitu keris. Dan sebelum melakukan pertunjukan, 4 orang penari tersebut melakukan ritual dahulu dengan menyiapkan sesajen. Jika kita perhatikan para penari tari serimpi pada saat pertunjukan seperti terbawa kealam lain, karena dengan durasi 45 sampai 60 menit mereka hanya menari tanpa adanya interaksi dengan penonton. Namun karena adanya faktor internal dan eksternal, maka tari serimpi mengalami perubahan dari segi durasi pertunjukan dan fungsi. Perubahan tersebut terjadi karena adanya penyesuaian kebudayaan ditengah-tengah era globalisasi. Durasi pertunjukannya  dari yang awalnya 1 jam menjadi 15 menit, fungsi tarinya bukan lagi sebagai upacara melainkan sebagai hiburan, bisa dipertontonkan dikalangan umum, bukan hanya di keraton saja. Perubahan durasi waktu itu juga termasuk ke dalam tari kemasan, dimana tari kemasan tersebut merupakan hasil pengaruh dari kebudayaan barat. Perubahan seperti itu sah-sah saja, asalkan tidak melanggar pada pakem yang ada. Maksudnya filosofi yang terkandung pada tari serimpi bisa sampai kepada orang yang menontonnya walaupun durasi pertunjukan mengalami perubahan. Dan yang masih belum berubah dari tari Serimpi adalah bunyi gending  yang dihasilkan oleh alat musik gamelan, yang mengikuti gerakan para penari.
Pada zaman dahulu, yang belajar tari serimpi hanya putri-putri dari keraton saja, namun sekarang ini masyarakat umum bahkan turis pun bisa mempelajari tari serimpi dimana saja. Berarti hal tersebut menandakan bahwa pertumbuhan tari serimpi tidak hanya didalam lingkungan keraton saja, tetapi sudah sampai ke masyarakat-masyarakat umum dan merupakan salah satu perwujudan pelestarian budaya oleh masyarakat. Tari serimpi ada bermacam-macam jenis diantaranya tari serimpi pandelori, tari serimpi renggawati, tari serimpi cina, tari serimpi merak, tari serimpi pramugari, dan tari serimpi pistol. Tari Serimpi juga menekankan kesamaan dan kebersamaan secara karakter dan gerakan serta kesatuan rasa, sehingga tari Serimpi ini terkesan sebagai satu kesatuan.
  
II.                 NILAI KEINDAHAN TARI SERIMPI
Dalam mengamati atau menganalisa nilai-nilai keindahan di dalam tari serimpi, saya menggunakan kriteria sumber keindahan koreografi berdasarkan garapan isi dan yang terdapat pada penari secara kemampuan teknis dan kemampuan memberi isi. Maksud dari kemampuan secara teknis dimana mereka memiliki wiraga, wirama, dan wirasa, Wiraga merupakan kemampuan gerak yang dimiliki oleh seorang penari, yang mana keempat penari tari serimpi dengan lihai melakukan gerakan-gerakan gemulai yang mengalir dengan lembut dan luwes yang di iringi musik gamelan jawa. Tanpa adanya wirama atau kemampuan penari menyelaraskan dengan irama, maka tidak akan tercipta gerakan gemulai yang selaras dan harmonis yang membuat para penonton terkesima. Selain itu wirasa atau kemampuan penari menghayati dan mengekspresikan yang dimiliki keempat penari dalam melakukan gerak-gerak tari serimpi. Kemampuan memberi isi yang dilakukan penari terlihat dari penonton yang terbawa kedalam dunia mimpi yang tenang, damai, dan menyenangkan. Berarti keempat penari tersebut mampu menghayati karakter tarian dan mampu mengekspresikan karakter tersebut hingga dapat membuat perasaan nyaman kepada penonton ketika menyaksikan tari serimpi meskipun durasinya lama.
Sedangkan sumber keindahan dari koreografi yang berdasarkan garapan isi, tari serimpi memiliki nilai-nilai kehidupan yang terlihat dari tema yang dibawakan yakni mengisahkan antara dua unsur kehidupan antara yang baik dan yang buruk, akal dan nafsu manusia, serta benar dan salah. Pesan moral tersebut disampaikan melalui gerak-gerak gemulai dan luwes yang dilakukan oleh keempat penari tersebut, yang pada dasarnya tari srimpi terdapat dua macam gesture yaitu gesture sosial dan gesture ritual. Gesture sosial bermakna secara lahiriah sedangkan gesture ritual mengarah pada makna batiniah, dimana gesture ritual tersebut memiliki simbol dan makna sebagai upaya seorang penari untuk berkomunikasi dengan realitas tinggi dengan tujuan untuk menyingkap rahasia tentang keberadaannya, menuju jalan mistik yang akhirnya menuju pada persatuan dengan Tuhan.  Selain itu, komposisi penari juga memiliki makna bilangan 4 merupakan lambang dari arah mata angin yang akan membuat manusia sadar untuk menjalani kehidupan didunia ini dan menebarkan kebaikan setiap saat, serta menjauhkan diri dari segala yang mengakibatkan kerusakan lingkungan dan sebagainya. Maka tari serimpi termasuk kedalam seni yang adihulung yang menjadi sumber untuk menggali kearifan kehidupan.
  
DAFTAR PUSTAKA
Rizkie Nurindiani. 2005. Indahnya Tari Serimpi. http://www.trulyjogja.com/index.php?action=news.detail&cat_id=7&news_id=293 . 2 Juni 2013 . 08.30 WIB
Anne Ahira. Menyelami Keadiluhungan Tari Serimpi Yogyakarta. http://www.anneahira.com/tari-serimpi-yogyakarta.htm . 2 Juni 2013. 08.30 WIB
Moh. Syarifuddin. 2012. Keunikan gerakan iringan musik dan busana tari srimpi. http://www.syafir.com/2012/10/30/keunikan-gerakan-iringan-musik-dan-busana-tari-srimpi . 2 Juni 2013. 09.00 WIB
Brakel-Papenhuyzen, Clara. 1991. Seni Tari Jawa : Tradisi Surakarta dan Peristilahannya. ILDEP-RUL : Jakarta.

Senin, 16 September 2013

Kesenian Bali



I.                   Kebudayaan
Kebudayaan adalah sebuah sistem pengetahuan atau gagasan yang digunakan sebagai pengatur tingkah laku, yang hidup dan berkembang dari generasi ke genereasi, dipelajari, dipraktekkan, dihayati, dan dibanggakan. Menurut Van Peursen, perkembangan kebudayaan manusia ada 3 kategori, diantaranya kategori mitis dimana sikap manusia merasakan dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib atau kekuasaan dewa dalam mitodologi bangsa-bangsa primitif, kategori ontologis diamna sikap manusia yang tidak lagi hidup dalam kepungan kekuatan mitis, dan kategori fungsional dimana sikap manusia menunjukkan tidak lagi terpesona kepada hal-hal atau kekuataan mitis, juga tidak lagi menghadapi lingkungan dengan mengambil jarak sekarang, sikap fungsional ini termasuk kedalam ciri utama manusia modern. Menurut Koentjaraningrat, kesenian merupakan fokus dari kebudayaan Bali, karena dalam sistem kesenian terkait seluruh unsur yang lain seperti sistem religi, sistem pengetahuan, bahasa, sistem kemasyarakatan, sistem mata pencaharian, dan teknologi. Kebudayaan Bali mendapatkan pengaruh yang sangat besar dari kebudayaan India dengan datangnya orang-orang Hindu dari India ke Bali.
Di pulau Dewata ini, kesenian tidak hanya digunakan sebagai hiburan saja, melainkan juga sebagai sarana dan pelengkap peristiwa-peristiwa ritual yang bersifat keagamaan, kebersamaan suatu komunitas, dan penunjang faktor ekonomi bagi sebagian masyarakatnya. Dalam perkembangan pembangunan yang cepat dalam kesibukan industri pariwisata dan persaingan untuk mengumpulkan materi, peranan kesenian untuk menyeimbangkan dunia lahiriah dan rohaniah tidaklah kecil. Perkembangan tersebut mempunyai dampak negatif dan positif terhadap kehidupan budaya, khususnya kehidupan kesenian.

II.                Kesenian Menjadi Fokus Kebudayaan Bali
Kesenian pada masyarakat Bali merupakan satu kompleks unsur yang tampak digemari oleh warga masyarakatnya, sehingga terlihat seolah-olah mendominasi seluruh kehidupan masyarakat Bali. Atas dasar fungsinya yang demikian maka kesenian merupakan satu fokus kebudayaan Bali. Daerah Bali sangat kaya dalam bidang kesenian, seluruh cabang kesenian tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakatnya yang meliputi seni rupa, seni pertunjukan dan seni sastra.
Seni rupa mencakup satu cabang yang terdiri dari seni pahat, seni lukis dan seni hias. Seni pahat pada masyarakat Bali telah mengalami suatu perkembangan yang panjang yaitu patung-patung yang bercorak megalitik yang berasal dari jaman pra Hindu yang dipandang sebagai penghubung manusia dengan nenek moyang dan kekuatan alam, arca dewa-dewa yang dianggap sebagai media manusia dengan dewa-dewa dan jenis ini merupakan pengaruh Hindu-Budha, patung-patung yang bertemakan tokoh-tokoh dari cerita Mahabharata dan Ramayana, bentuk-bentuk relief yang dipahatkan pada tembok pintu dan tiang rumah, serta patung-patung yang berbentuk naturalis. Begitu pula dengan seni lukis di Bali yang telah mengalami perjalanan yang sangat panjang, dimulai dengan lukisan-lukisan yang bersifat simbolis magis seperti rerajahan, lukisan-lukisan religius seperti lukisan parba, langit-langit dan ider-ider, serta lukisan-lukisan yang bersifat naturalis.
Untuk seni tari tradisional di Bali berdasarkan fungsinya digolongkan dalam tiga jenis yaitu Tari Wali (Tari Sakral) yang merupakan tarian keagamaan yang dianggap keramat, Tari Bebali merupakan tarian yang berfungsi sebagai pengiring upacara, dan Tari Balih-Balihan merupakan tarian yang berfungsi sebagai hiburan. Jenis tarian sakral atau yang dianggap keramat antara lain : Tari Sanghyang Dedari, Tari Rejang Sutri, Tari Pendet, Tari Baris Gede, Tumbak, Baris Jangkang, Baris Palung, Pusi, Seraman, Tekok Jago, Topeng Pajangan, Wayang Lemah, Wayang Sudamala, Tari Abuang, Tari Bruntuk, Tari Dakamalon, Tari Ngayab, dan Tari Kincang-Kincung. Sedangkan tari yang termasuk kedalam tari balih-balihan diantaranya tari Legong, Barong, Kecak, dan tari Pendet. Alat pakaian atau gander yang digunakan oleh masyarakat akan disucikan atau disakralkan.
Dalam seni musik tradisionalnya, di Bali memiliki juga kesamaan dengan musik tradisional di beberapa daerah yang lain, misalnya dalam penggunaan gamelan dan berbagai alat tabuh lainnya. Namun terdapat perbedaan yang sangat signifikan yakni dalam teknik memainkannya dan gubahannya. Dalam budaya Bali, gamelan memiliki peranan yang sangat penting dalam kegiatan budaya dan sosial keagamaan.
Kesenian sastra di Bali merupakan hasil warisan budaya yang luhur dan merupakan referensi serta sumber dari bentuk-bentuk lainnya. Sejak jaman dahulu masyarakat Bali telah mengenal tulisan atau aksara Bali. Secara keseluruhan seni sastra di Bali telah mengalami lima jaman yaitu kesusastraan Bali Purwa, kesusastraan Bali Hindu, kesusastraan Bali Jawa, kesusastraan Bali Baru, dan kesusastraan Bali Modern. Contoh dari kesenian sastra Bali adalah cerita Ramayana atau Mahabarata.
III.             Fungsi dan kedudukan seni dalam kehidupan masyarakat Bali
Kehidupan masyarakat Bali dilandasi falsafah Tri Hita Karana artinya 3 penyebab kesejahteraan yang perlu diseimbangkan dan diharmoniskan, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), hubungan manusia dengan manusia (Pawongan), dan hubungan manusia dengan lingkungan (Palemahan). Dalam seni musik tradisional atau gamelan Bali, bila dikaitkan dalam konsep Tri Hita Karana gamelan Bali dapat dilihat dari sudut fungsi sebagai berikut :


a.       Gamelan dalam Konteks Upacara Ritual Keagamaan (Parahyangan)
Gamelan Bali dalam konteks Parahyangan berfungsi untuk mengiringi upacara ritual Hindu. Gamelan yang kini sangat popular pada kehidupan masyarakat Bali yakni gamelan Gong Kebyar, yang fungsinya selain sebagai sarana hiburan, gamelan yang tergolong baru ini juga bisa digunakan dalam mengiringi prosesi upacara Dewa Yadnya. Misalnya pada saat odalan di Pura, Gong Kebyar bisa digunakan  untuk mengiringi tari-tari wali seperti tari Topeng, tari Baris Gede, tari Rejang Dewa dan lain sebagainya. Jika dikaitkan dengan konteks Parahyangan, gamelan Gong Kebyar memang banyak fungsinya.
b.      Gamelan dalam Konteks Sosial (Pawongan)
Hubungan pawongan, salah satunya yaitu penumbuh rasa kebersamaan. Contohnya dalam memainkan gamelan, seorang penabuh dituntut keterampilannya dan mampu mengadakan interaksi antar penabuh yang lainnya agar tercapainya penampilan yang sempurna. Dengan adanya rasa kebersamaan itulah maka rasa persatuan antar penabuh akan tumbuh. Selain itu, antar penabuh atau seniman pun bisa tukar pendapat, saling mengisi, menambah wawasan dan menambah teman baru pula.
c.       Gamelan dalam Konteks Lingkungan (Palemahan)
Kalau dilihat dari konteks palemahan, gamelan Bali dapat digunakan sebagai musik prosesi pada upacara yang ada hubungannya dalam alam semesta dan lingkungan sekitarnya. Misalnya gamelan Gong  Kebyar dan Baleganjur digunakan pada saat upacara mecaru.
d.      Gamelan dalam Pariwisata dan Ekonomi
Gamelan Bali bisa digunakan untuk penyajian sebuah seni pertunjukkan yang akan dipentaskan kepada wisatawan-wisatawan asing atau domestik  yang datang ke Bali. Ada pula wisatawan yang datang ke Bali sengaja untuk melihat pertunjukan pementasan gamelan Bali dan sengaja datang untuk belajar bermain gamelan Bali.
       Hal itu membawa dampak yang luar biasa pada  perekonomian  negara  khususnya  bagi  masyarakat  Bali  sendiri,  yaitu pendapatan perkapita negara yang semula rendah menjadi tinggi akibat berkembangnya pariwisata.
Pada saat ini, gamelan telah menjadi lahan kerja bagi seniman-seniman Bali bila ada wisatawan asing atau domestik yang ingin belajar gamelan Bali, dan oleh hal tersebut menyebabkan banyak bermunculan seniman-seniman profesional yang menyediakan jasa pembuatan tabuh.

Tak heran bila sebagian besar kehidupan masyarakat Bali diwarnai dengan berbagai macam upacara keagamaan, dan di setiap upacara keagamaan tersebut pasti ada sajian-sajian upacara yang diiringi dengan gamelan dan kelompok penari untuk mengisi acara upacara keagamaan tersebut. Namun, dengan berjalannya waktu fungsi kesenian bali yang semula sarana sakral kini sebagian sudah menjadi seni sekuler yang mengarah pada hiburan dan persembahan karya dengan nilai seni yang tinggi. Bagi masyarakat Bali, seni dan kerajinan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
IV.             Perkembangan Kesenian Bali
Sulit membedakan antara seni dan kehidupan sehari-hari di masyarakat Bali, karena kesenian dan agama sudah seperti dwitunggal, itulah yang membuat kesenian di Bali hingga saat ini masih dapat bertahan sampai sekarang dan terwarisi secara turun-temurun.
Perkembangan kesenian Bali dibagi menjadi fase-fase historis yang meliputi zaman pra-Hindu, zaman pemerintahan Raja-raja Bali, zaman kedatangan orang-orang Majapahit, zaman pemerintahan Belanda, dan zaman kemerdekaan sampai masa kini.
a.       Zaman Pra-Hindu
Pada zaman ini seni tari yang dikenal adalah tari primitif yang ditemukan pada upacara-upacara animisme dan dinamisme yang fungsinya untuk menolak bala, menurunkan hujan atau untuk menyembuhkan penyakit. Pada masyarakat Bali sendiri, sisa-sisa kebudayaan seperti itu masih berkembang, contohnya pada tari Sang Hyang Dedari yang merupakan kesenian asli yang sangat tua umurnya, tari tersebut dipertunjukkan dalam upacar keagamaan dan merupakan media keagamaan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Bali.
Berkembangnya seni suara Bali purba terjadi sebelum abad ke 6, yang merupakan kesusastraan rakyat bercorak tradisi lisan dan dieplajari turun temurun. Terdapat banyak perubahan dalam  perjalanannya, tetapi kesusastraan tersebut tetap berkembang pesat hingga muncul beberapa cerita rakyat. Pada zaman itulah diduga kuat sebagai awal cikal bakal berkembangnya lagu-lagu rakyat yang disebut gegendingan yang salah satu contohnya ialah Gending Sang Hyang yang merupakan nyanyian sakral berbahasa Bali.
b.      Zaman Pemerintahan Raja-raja Bali
Kesenian Bali mendapat pengaruh kebudayaan Hindu Jawa sejak abad ke 8. Hal tersebut memang belum diketahui secara pasti, namun setelah ditemukannya prasasti Bebetin yang dibuat oleh pegawai Kerajaan Singhamandawa pada bulan ke 10 yang berangka tahun 896 Masehi menyebutkan beberapa jenis seni pertunjukan seperti pamukul, pagending, pabunjing, papadaha, pabangsi dan sebagainya.
Literatur-literatur Bali kebanyakan memberi tekanan pada pengaruh kebudayaan Hindu, dan sangat sedikit menaruh pengaruh pada unsur-unsur kebudayaan Cina dalam kesenian Bali. Hubungan tersebut terlihat dari Barong yang ada di Bali yang berasal dari singa barong Cina yang muncul pada Dinasti T’ang pada abad ke 7 sampai abad ke 10. Pengaruh Cina juga tampak pada peninggalan barang-barang porselin, patung-patung, dan bangunan suci berhiaskan porselin yang mulai muncul di Bali.
c.       Zaman Kedatangan Orang-orang Majapahit
Pada abad ke 16 sampai ke 19, kesenian Bali mencapai puncak keemasannya, dan pada saat itulah muncul dan tercipta tari-tarian Gambuh, Topeng, Wayang Wong, Parwa, Arja, Legong, dan seni klasik lainnya. Pada zaman ini, berkembang pula seni sastra Itihasa yakni seni sastra yang terdiri atas bermacam-macam tembang. Contohnya sastra kakawin Mahabharata dan Ramayana, kidung Panji, peparikan Adiparwa, Bharatayuda, Narasoma, dan Bomantaka yang diciptakan berdasar wiracarita Mahabharata.
Seni rupa yang muncul pada saat itu merupakan seni keagamaan dan seni rupa untuk puri. Perkembangan seni lukis juga muncul gaya kamasan, karya lukis yang berbentuk ornamen wayang yang temanya diambil dari Mahabharata dan Ramayana. Lukisan wayang tersebut juga berperan dalam bangunan pura dan puri sebagai penghias langit-langit, sebagai gambar dinding, atau sebagai lukisan pada alat-alat ritual. Sedangkan dalam perkembangan seni kerajinan menumbuhkan bentuk kerajinan emas-perak yang terukir indah yang dibuat berupa alat-alat upacara, misalnya tempat sesajen seperti bokor, kendi, cawan, dan sangku. Kemudian seni kerajinan juga mendapatkan pengaruh dari luar yang semakin tajam dengan masuknya patra Cina, Mesir, dan Olanda yang dimasukkan dalam berbagai bangunan pura dan puri.
Kontak Bali dengan dunia Barat menyebabkan tumbuhnya kreasi-kreasi modern dalam kesenian Bali. Kreasi tersebut merupakan ekspresi masyarakat modern dan didalam seni tari ditandai dengan Kebyar di Singaraja pada tahun 1914 yang dibentuk dalam tari kemasan dimana tari yang asalnya klasik, komposisinya diperbaharui, waktunya diperpendek, dan lebih menggunakan improvisasi dan interpretasi dari penari sendiri. Dan pada abad ke 18, muncul grup-grup professional dalam kesenian Bali yang mempertunjukkan tari untuk hiburan dan pementasan untuk kepentingan pariwisata dalam menghibur turis yang berkunjung ke Bali.
d.      Zaman Pemerintahan Belanda
Sejalan dengan pertumbuhan Gong Kebyar dalam seni pertunjukan, pada tahun 1930-an seni rupa mengalami perubahan bentuk dan isi setelah kedatangan dua pelukis warga negara asing yakni Walter Spies dan Rudolf Bonnet yang menetap di Ubud, mereka mulai melukis dengan tema sabungan ayam, upacara piodalan di pura, ngaben, dan sebagainya. Sebelum kedatangan mereka berdua, para pelukis di Ubud melukis wayang gaya kamasan. Gerak seni lukis di Ubud membawa pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan seni patung dengan munculnya para seniman yang menciptakan bentuk-bentuk seni patung orang menari, bermain suling, orang memanah, dan sebagainya.
Pada masa penjajahan Belanda, dunia arsitektur Bali sangat terpengaruh oleh arsitektur Belanda. Peninggalan arsitektru Belanda yang masih terpelihara bail sampai saat ini adalah Istana Karangasem.
Pada tahun 1930-an juga masyarakat Bali mulai membuat seni imitasi, yakni benda ritual seperti Barong, rangda, dan pratima yang dibuat secara masal dan dijual untuk turis.
Pada tahun 1940-an, Bali menerima sebuah bentuk kesenian barat yang dikenal dengan Stambul, yakni sebuah tiruan drama barat yang diduga berasal dari kota Istambul yang mausk ke Indonesia melalui orang-orang Melayu. Lalu stambul tersebut diadaptasikan kedalam kesenian Bali dan dipadukan menjadi tari Janger.
e.       Zaman Kemerdekaan Sampai Masa Kini
Sejak 1966 sampai saat ini, perkembangan kesenian Bali mulai menonjol, dan masa kebangkitan kesenian Bali tidak dapat dipisahkan dari usaha pemerintah RI yang sedang membangun. Ada tiga konsep utama yang perlu diperhatikan dalam usaha melestarikan kesenian, yaitu pelestarian ide (gagasan vital), pelestarian materi (ciri-ciri), dan pelestarian keserasian antara keduanya.
V.                Kesimpulan
Karena umumnya masyarakat Bali mayoritasnya beragama Hindu, maka fungsi kesenian pada masyarakat Bali yang utama tidak dapat dipisahkan dari upacara keagamaan, karena setiap mengadakan ritual upacara keagamaan diiringi dengan musik gamelan dan kelompok penari. Namun seiring berjalannya waktu, fungsi kesenian tersebut melebar luas dari yang tadinya seni hanya sebagai ritual keagamaan, bisa menjadi hiburan atau tontonan untuk para turis atau wisatawan, bisa menjadi laha pekerjaan, dan sebagainya.










DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Sukmala, dkk. 2012. Pesona Indonesia “Lebih Dekat Mengenal Pulau Bali dan Nusa Tenggara”. Jakarta : PT Bintang Ilmu
Bandem, I Made. 2000. Etnologi Tari Bali. Denpasar-Bali : Kanisius
Sumardjo, Jakob, dkk. 2002. Seni Pertunjukan. Jakarta : Buku Antar Bangsa
Bayu Angga. 2013. Peranan Gamelan dalam Kehidupan. http://bayoe8888.blogspot.com/2013/01/peranan-gamelan-dalam-kehidupan.html , 12 April 2013, 2.35 PM

Kesenian Bali



I.                   Kebudayaan
Kebudayaan adalah sebuah sistem pengetahuan atau gagasan yang digunakan sebagai pengatur tingkah laku, yang hidup dan berkembang dari generasi ke genereasi, dipelajari, dipraktekkan, dihayati, dan dibanggakan. Menurut Van Peursen, perkembangan kebudayaan manusia ada 3 kategori, diantaranya kategori mitis dimana sikap manusia merasakan dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib atau kekuasaan dewa dalam mitodologi bangsa-bangsa primitif, kategori ontologis diamna sikap manusia yang tidak lagi hidup dalam kepungan kekuatan mitis, dan kategori fungsional dimana sikap manusia menunjukkan tidak lagi terpesona kepada hal-hal atau kekuataan mitis, juga tidak lagi menghadapi lingkungan dengan mengambil jarak sekarang, sikap fungsional ini termasuk kedalam ciri utama manusia modern. Menurut Koentjaraningrat, kesenian merupakan fokus dari kebudayaan Bali, karena dalam sistem kesenian terkait seluruh unsur yang lain seperti sistem religi, sistem pengetahuan, bahasa, sistem kemasyarakatan, sistem mata pencaharian, dan teknologi. Kebudayaan Bali mendapatkan pengaruh yang sangat besar dari kebudayaan India dengan datangnya orang-orang Hindu dari India ke Bali.
Di pulau Dewata ini, kesenian tidak hanya digunakan sebagai hiburan saja, melainkan juga sebagai sarana dan pelengkap peristiwa-peristiwa ritual yang bersifat keagamaan, kebersamaan suatu komunitas, dan penunjang faktor ekonomi bagi sebagian masyarakatnya. Dalam perkembangan pembangunan yang cepat dalam kesibukan industri pariwisata dan persaingan untuk mengumpulkan materi, peranan kesenian untuk menyeimbangkan dunia lahiriah dan rohaniah tidaklah kecil. Perkembangan tersebut mempunyai dampak negatif dan positif terhadap kehidupan budaya, khususnya kehidupan kesenian.

II.                Kesenian Menjadi Fokus Kebudayaan Bali
Kesenian pada masyarakat Bali merupakan satu kompleks unsur yang tampak digemari oleh warga masyarakatnya, sehingga terlihat seolah-olah mendominasi seluruh kehidupan masyarakat Bali. Atas dasar fungsinya yang demikian maka kesenian merupakan satu fokus kebudayaan Bali. Daerah Bali sangat kaya dalam bidang kesenian, seluruh cabang kesenian tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakatnya yang meliputi seni rupa, seni pertunjukan dan seni sastra.
Seni rupa mencakup satu cabang yang terdiri dari seni pahat, seni lukis dan seni hias. Seni pahat pada masyarakat Bali telah mengalami suatu perkembangan yang panjang yaitu patung-patung yang bercorak megalitik yang berasal dari jaman pra Hindu yang dipandang sebagai penghubung manusia dengan nenek moyang dan kekuatan alam, arca dewa-dewa yang dianggap sebagai media manusia dengan dewa-dewa dan jenis ini merupakan pengaruh Hindu-Budha, patung-patung yang bertemakan tokoh-tokoh dari cerita Mahabharata dan Ramayana, bentuk-bentuk relief yang dipahatkan pada tembok pintu dan tiang rumah, serta patung-patung yang berbentuk naturalis. Begitu pula dengan seni lukis di Bali yang telah mengalami perjalanan yang sangat panjang, dimulai dengan lukisan-lukisan yang bersifat simbolis magis seperti rerajahan, lukisan-lukisan religius seperti lukisan parba, langit-langit dan ider-ider, serta lukisan-lukisan yang bersifat naturalis.
Untuk seni tari tradisional di Bali berdasarkan fungsinya digolongkan dalam tiga jenis yaitu Tari Wali (Tari Sakral) yang merupakan tarian keagamaan yang dianggap keramat, Tari Bebali merupakan tarian yang berfungsi sebagai pengiring upacara, dan Tari Balih-Balihan merupakan tarian yang berfungsi sebagai hiburan. Jenis tarian sakral atau yang dianggap keramat antara lain : Tari Sanghyang Dedari, Tari Rejang Sutri, Tari Pendet, Tari Baris Gede, Tumbak, Baris Jangkang, Baris Palung, Pusi, Seraman, Tekok Jago, Topeng Pajangan, Wayang Lemah, Wayang Sudamala, Tari Abuang, Tari Bruntuk, Tari Dakamalon, Tari Ngayab, dan Tari Kincang-Kincung. Sedangkan tari yang termasuk kedalam tari balih-balihan diantaranya tari Legong, Barong, Kecak, dan tari Pendet. Alat pakaian atau gander yang digunakan oleh masyarakat akan disucikan atau disakralkan.
Dalam seni musik tradisionalnya, di Bali memiliki juga kesamaan dengan musik tradisional di beberapa daerah yang lain, misalnya dalam penggunaan gamelan dan berbagai alat tabuh lainnya. Namun terdapat perbedaan yang sangat signifikan yakni dalam teknik memainkannya dan gubahannya. Dalam budaya Bali, gamelan memiliki peranan yang sangat penting dalam kegiatan budaya dan sosial keagamaan.
Kesenian sastra di Bali merupakan hasil warisan budaya yang luhur dan merupakan referensi serta sumber dari bentuk-bentuk lainnya. Sejak jaman dahulu masyarakat Bali telah mengenal tulisan atau aksara Bali. Secara keseluruhan seni sastra di Bali telah mengalami lima jaman yaitu kesusastraan Bali Purwa, kesusastraan Bali Hindu, kesusastraan Bali Jawa, kesusastraan Bali Baru, dan kesusastraan Bali Modern. Contoh dari kesenian sastra Bali adalah cerita Ramayana atau Mahabarata.
III.             Fungsi dan kedudukan seni dalam kehidupan masyarakat Bali
Kehidupan masyarakat Bali dilandasi falsafah Tri Hita Karana artinya 3 penyebab kesejahteraan yang perlu diseimbangkan dan diharmoniskan, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), hubungan manusia dengan manusia (Pawongan), dan hubungan manusia dengan lingkungan (Palemahan). Dalam seni musik tradisional atau gamelan Bali, bila dikaitkan dalam konsep Tri Hita Karana gamelan Bali dapat dilihat dari sudut fungsi sebagai berikut :


a.       Gamelan dalam Konteks Upacara Ritual Keagamaan (Parahyangan)
Gamelan Bali dalam konteks Parahyangan berfungsi untuk mengiringi upacara ritual Hindu. Gamelan yang kini sangat popular pada kehidupan masyarakat Bali yakni gamelan Gong Kebyar, yang fungsinya selain sebagai sarana hiburan, gamelan yang tergolong baru ini juga bisa digunakan dalam mengiringi prosesi upacara Dewa Yadnya. Misalnya pada saat odalan di Pura, Gong Kebyar bisa digunakan  untuk mengiringi tari-tari wali seperti tari Topeng, tari Baris Gede, tari Rejang Dewa dan lain sebagainya. Jika dikaitkan dengan konteks Parahyangan, gamelan Gong Kebyar memang banyak fungsinya.
b.      Gamelan dalam Konteks Sosial (Pawongan)
Hubungan pawongan, salah satunya yaitu penumbuh rasa kebersamaan. Contohnya dalam memainkan gamelan, seorang penabuh dituntut keterampilannya dan mampu mengadakan interaksi antar penabuh yang lainnya agar tercapainya penampilan yang sempurna. Dengan adanya rasa kebersamaan itulah maka rasa persatuan antar penabuh akan tumbuh. Selain itu, antar penabuh atau seniman pun bisa tukar pendapat, saling mengisi, menambah wawasan dan menambah teman baru pula.
c.       Gamelan dalam Konteks Lingkungan (Palemahan)
Kalau dilihat dari konteks palemahan, gamelan Bali dapat digunakan sebagai musik prosesi pada upacara yang ada hubungannya dalam alam semesta dan lingkungan sekitarnya. Misalnya gamelan Gong  Kebyar dan Baleganjur digunakan pada saat upacara mecaru.
d.      Gamelan dalam Pariwisata dan Ekonomi
Gamelan Bali bisa digunakan untuk penyajian sebuah seni pertunjukkan yang akan dipentaskan kepada wisatawan-wisatawan asing atau domestik  yang datang ke Bali. Ada pula wisatawan yang datang ke Bali sengaja untuk melihat pertunjukan pementasan gamelan Bali dan sengaja datang untuk belajar bermain gamelan Bali.
       Hal itu membawa dampak yang luar biasa pada  perekonomian  negara  khususnya  bagi  masyarakat  Bali  sendiri,  yaitu pendapatan perkapita negara yang semula rendah menjadi tinggi akibat berkembangnya pariwisata.
Pada saat ini, gamelan telah menjadi lahan kerja bagi seniman-seniman Bali bila ada wisatawan asing atau domestik yang ingin belajar gamelan Bali, dan oleh hal tersebut menyebabkan banyak bermunculan seniman-seniman profesional yang menyediakan jasa pembuatan tabuh.

Tak heran bila sebagian besar kehidupan masyarakat Bali diwarnai dengan berbagai macam upacara keagamaan, dan di setiap upacara keagamaan tersebut pasti ada sajian-sajian upacara yang diiringi dengan gamelan dan kelompok penari untuk mengisi acara upacara keagamaan tersebut. Namun, dengan berjalannya waktu fungsi kesenian bali yang semula sarana sakral kini sebagian sudah menjadi seni sekuler yang mengarah pada hiburan dan persembahan karya dengan nilai seni yang tinggi. Bagi masyarakat Bali, seni dan kerajinan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
IV.             Perkembangan Kesenian Bali
Sulit membedakan antara seni dan kehidupan sehari-hari di masyarakat Bali, karena kesenian dan agama sudah seperti dwitunggal, itulah yang membuat kesenian di Bali hingga saat ini masih dapat bertahan sampai sekarang dan terwarisi secara turun-temurun.
Perkembangan kesenian Bali dibagi menjadi fase-fase historis yang meliputi zaman pra-Hindu, zaman pemerintahan Raja-raja Bali, zaman kedatangan orang-orang Majapahit, zaman pemerintahan Belanda, dan zaman kemerdekaan sampai masa kini.
a.       Zaman Pra-Hindu
Pada zaman ini seni tari yang dikenal adalah tari primitif yang ditemukan pada upacara-upacara animisme dan dinamisme yang fungsinya untuk menolak bala, menurunkan hujan atau untuk menyembuhkan penyakit. Pada masyarakat Bali sendiri, sisa-sisa kebudayaan seperti itu masih berkembang, contohnya pada tari Sang Hyang Dedari yang merupakan kesenian asli yang sangat tua umurnya, tari tersebut dipertunjukkan dalam upacar keagamaan dan merupakan media keagamaan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Bali.
Berkembangnya seni suara Bali purba terjadi sebelum abad ke 6, yang merupakan kesusastraan rakyat bercorak tradisi lisan dan dieplajari turun temurun. Terdapat banyak perubahan dalam  perjalanannya, tetapi kesusastraan tersebut tetap berkembang pesat hingga muncul beberapa cerita rakyat. Pada zaman itulah diduga kuat sebagai awal cikal bakal berkembangnya lagu-lagu rakyat yang disebut gegendingan yang salah satu contohnya ialah Gending Sang Hyang yang merupakan nyanyian sakral berbahasa Bali.
b.      Zaman Pemerintahan Raja-raja Bali
Kesenian Bali mendapat pengaruh kebudayaan Hindu Jawa sejak abad ke 8. Hal tersebut memang belum diketahui secara pasti, namun setelah ditemukannya prasasti Bebetin yang dibuat oleh pegawai Kerajaan Singhamandawa pada bulan ke 10 yang berangka tahun 896 Masehi menyebutkan beberapa jenis seni pertunjukan seperti pamukul, pagending, pabunjing, papadaha, pabangsi dan sebagainya.
Literatur-literatur Bali kebanyakan memberi tekanan pada pengaruh kebudayaan Hindu, dan sangat sedikit menaruh pengaruh pada unsur-unsur kebudayaan Cina dalam kesenian Bali. Hubungan tersebut terlihat dari Barong yang ada di Bali yang berasal dari singa barong Cina yang muncul pada Dinasti T’ang pada abad ke 7 sampai abad ke 10. Pengaruh Cina juga tampak pada peninggalan barang-barang porselin, patung-patung, dan bangunan suci berhiaskan porselin yang mulai muncul di Bali.
c.       Zaman Kedatangan Orang-orang Majapahit
Pada abad ke 16 sampai ke 19, kesenian Bali mencapai puncak keemasannya, dan pada saat itulah muncul dan tercipta tari-tarian Gambuh, Topeng, Wayang Wong, Parwa, Arja, Legong, dan seni klasik lainnya. Pada zaman ini, berkembang pula seni sastra Itihasa yakni seni sastra yang terdiri atas bermacam-macam tembang. Contohnya sastra kakawin Mahabharata dan Ramayana, kidung Panji, peparikan Adiparwa, Bharatayuda, Narasoma, dan Bomantaka yang diciptakan berdasar wiracarita Mahabharata.
Seni rupa yang muncul pada saat itu merupakan seni keagamaan dan seni rupa untuk puri. Perkembangan seni lukis juga muncul gaya kamasan, karya lukis yang berbentuk ornamen wayang yang temanya diambil dari Mahabharata dan Ramayana. Lukisan wayang tersebut juga berperan dalam bangunan pura dan puri sebagai penghias langit-langit, sebagai gambar dinding, atau sebagai lukisan pada alat-alat ritual. Sedangkan dalam perkembangan seni kerajinan menumbuhkan bentuk kerajinan emas-perak yang terukir indah yang dibuat berupa alat-alat upacara, misalnya tempat sesajen seperti bokor, kendi, cawan, dan sangku. Kemudian seni kerajinan juga mendapatkan pengaruh dari luar yang semakin tajam dengan masuknya patra Cina, Mesir, dan Olanda yang dimasukkan dalam berbagai bangunan pura dan puri.
Kontak Bali dengan dunia Barat menyebabkan tumbuhnya kreasi-kreasi modern dalam kesenian Bali. Kreasi tersebut merupakan ekspresi masyarakat modern dan didalam seni tari ditandai dengan Kebyar di Singaraja pada tahun 1914 yang dibentuk dalam tari kemasan dimana tari yang asalnya klasik, komposisinya diperbaharui, waktunya diperpendek, dan lebih menggunakan improvisasi dan interpretasi dari penari sendiri. Dan pada abad ke 18, muncul grup-grup professional dalam kesenian Bali yang mempertunjukkan tari untuk hiburan dan pementasan untuk kepentingan pariwisata dalam menghibur turis yang berkunjung ke Bali.
d.      Zaman Pemerintahan Belanda
Sejalan dengan pertumbuhan Gong Kebyar dalam seni pertunjukan, pada tahun 1930-an seni rupa mengalami perubahan bentuk dan isi setelah kedatangan dua pelukis warga negara asing yakni Walter Spies dan Rudolf Bonnet yang menetap di Ubud, mereka mulai melukis dengan tema sabungan ayam, upacara piodalan di pura, ngaben, dan sebagainya. Sebelum kedatangan mereka berdua, para pelukis di Ubud melukis wayang gaya kamasan. Gerak seni lukis di Ubud membawa pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan seni patung dengan munculnya para seniman yang menciptakan bentuk-bentuk seni patung orang menari, bermain suling, orang memanah, dan sebagainya.
Pada masa penjajahan Belanda, dunia arsitektur Bali sangat terpengaruh oleh arsitektur Belanda. Peninggalan arsitektru Belanda yang masih terpelihara bail sampai saat ini adalah Istana Karangasem.
Pada tahun 1930-an juga masyarakat Bali mulai membuat seni imitasi, yakni benda ritual seperti Barong, rangda, dan pratima yang dibuat secara masal dan dijual untuk turis.
Pada tahun 1940-an, Bali menerima sebuah bentuk kesenian barat yang dikenal dengan Stambul, yakni sebuah tiruan drama barat yang diduga berasal dari kota Istambul yang mausk ke Indonesia melalui orang-orang Melayu. Lalu stambul tersebut diadaptasikan kedalam kesenian Bali dan dipadukan menjadi tari Janger.
e.       Zaman Kemerdekaan Sampai Masa Kini
Sejak 1966 sampai saat ini, perkembangan kesenian Bali mulai menonjol, dan masa kebangkitan kesenian Bali tidak dapat dipisahkan dari usaha pemerintah RI yang sedang membangun. Ada tiga konsep utama yang perlu diperhatikan dalam usaha melestarikan kesenian, yaitu pelestarian ide (gagasan vital), pelestarian materi (ciri-ciri), dan pelestarian keserasian antara keduanya.
V.                Kesimpulan
Karena umumnya masyarakat Bali mayoritasnya beragama Hindu, maka fungsi kesenian pada masyarakat Bali yang utama tidak dapat dipisahkan dari upacara keagamaan, karena setiap mengadakan ritual upacara keagamaan diiringi dengan musik gamelan dan kelompok penari. Namun seiring berjalannya waktu, fungsi kesenian tersebut melebar luas dari yang tadinya seni hanya sebagai ritual keagamaan, bisa menjadi hiburan atau tontonan untuk para turis atau wisatawan, bisa menjadi laha pekerjaan, dan sebagainya.










DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Sukmala, dkk. 2012. Pesona Indonesia “Lebih Dekat Mengenal Pulau Bali dan Nusa Tenggara”. Jakarta : PT Bintang Ilmu
Bandem, I Made. 2000. Etnologi Tari Bali. Denpasar-Bali : Kanisius
Sumardjo, Jakob, dkk. 2002. Seni Pertunjukan. Jakarta : Buku Antar Bangsa
Bayu Angga. 2013. Peranan Gamelan dalam Kehidupan. http://bayoe8888.blogspot.com/2013/01/peranan-gamelan-dalam-kehidupan.html , 12 April 2013, 2.35 PM